Kamis, 10 Maret 2022

Pemanfaatan PGPR

PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) adalah sejenis bakteri menguntungkan yang hidupnya berkoloni menyelimuti akar tanaman. Mikroba yang menguntungkan ini juga dapat ditemukan di permukaan tanaman (filosfer), lapisan tanah (rizosfer) dan di dalam jaringan tanaman sehat (endofit).

Sebagai bakteri Pemacu Pertumbuhan Tanaman, PGPR memiliki peran yang sangat penting, diantaranya adalah sebagai pupuk hayati (bio-fertilizer), menghasilkan hormon pertumbuhan (bio-simulant) dan Agens Pengendali Hayati (bio-protectant). 

Sebagai bio-fertilizer PGPR dapat membuat sumber nutrient (unsur hara) mudah tersedia dan terserap oleh tanaman melalui proses mineralisasi dan transformasi. Menghasilkan beberapa zat pertumbuhan diantaranya IAA (Indole Acetic Acid) yang dapat menambah luas permukaan akar-akar halus atau meningkatkan pertumbuhan akar. 

Selain itu juga berperan dalam melindungi tanaman dari serangan OPT baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Proses pembuatan PGPR cukup sederhana dan bahan-bahan yang digunakan mudah ditemui disekitar kita, diantarnya dedak, terasi, gula pasir, air, akar bambu/akar putri malu/rumput gajah sebagai biang. 

Secara umum, aplikasi PGPR dapat dilakukan dengan merendam benih/bibit dan penyiraman langsung pada tanaman. Dosis yang dianjurkan yaitu 15 ml per liter air untuk perendaman benih selama 6 jam. 

Untuk tanaman padi dapat diaplikasikan pada umur 15, 30 dan 45 hst. Sedangkan tanaman hortikultura bisa dilakukan 2 minggu sekali. 

PGPR dapat menekan perkembangan penyakit layu bakteri, antraknosa, bercak daun, layu Fusarium oxysporum dan Sclerotium.

Dengan melakukan penyemprotan PGPR secara rutin, maka tanaman akan tumbuh dengan subur, unsur hara meningkat serta bebas dari serangan hama dan penyakit.

Proses perendaman akar bambu

Bahan-bahan PGPR

Memasukkan fermentasi akar bambu ke dalam air rebusan dedak

Rebusan bahan-bahan PGPR

Proses penyaringan bahan PGPR

Selasa, 08 Maret 2022

Tips Menghemat Minyak Goreng

Sejak Pemerintah menetapkan harga minyak goreng terhitung tanggal 1 Februari 2022, semenjak itu banyak yang merasakan sulitnya mendapat minyak goreng. Dengan ketentuan harga baru itu, maka harga jual minyak goreng curah di pasaran ditetapkan sebesar Rp. 11.500 per liter, minyak goreng kemasan sederhana Rp. 13.500 per liter, dan minyak goreng kemasan premium Rp.14.000 per liter. 

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, meminta masyarakat untuk tidak panic buying karena akan menjamin stok tersedia dengan harga terjangkau. Tapi apa kenyataanya? Dimana-mana banyak yang mengeluhkan minyak goreng menjadi barang langka. Untuk mendapatkannnya harus antri, berebutan bahkan adu pukul. Setiap daerah unjuk gigi memamerkan betapa sulitnya memenuhi kebutuhan minyak goreng. Saya yang setiap pulang kantor harus singgah di Indomaret pun harus gigit jari ketika karyawannya dengan tersenyum mengatakan "tidak adaki bu..". Keadaan berlaku sampai hari ini. 

Minyak goreng yang saya dapatkan sekarangpun berasal dari teman yang dia beli dari mobil kampas Pasangkayu. Harganya? Tentu harga yang mahal, Rp. 28.000 per liter yang tidak sesuai dengan harga HET dan merk yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Mau tidak mau dibeli juga😂 Betapa krusialnya minyak goreng ini. Para suami pun ikut pusing dan kena imbasnya karena dipaksa ikut berpartisipasi berburu minyak goreng. Kondisi seperti ini akan dianggap santai oleh sebagian orang yang tidak menggunakan minyak sawit. Minyak kelapa, minyak jagung, sun flower bahkan minyak zaitun adalah pilihan mereka yang lebih memilih minyak sehat. Stok minyak ini cukup banyak tersedia di supermarket. Namun tidak semua orang bisa membeli mengingat harganya cukup mahal. 

Lantas apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi sekarang ini ? Yang jika dilihat belum ada tanda-tanda kondisi perminyakan akan kembali normal. Tentunya yang bisa kita lakukan adalah dengan menghemat penggunaan minyak goreng. Bagaimana caranya ? Yuk, simak tips berikut ini

1. Gunakan wajan datar dan anti lengket. Wajan cekung akan membuat penggunaan minyak goreng menjadi boros. Menggunakan wajan datar dan anti lengket tak perlu menghabiskan banyak minyak. 

2. Menggunakan metode pan frying. Teknik menggunakan sedikit minyak ini bahan makanan tidak perlu digoreng lama karena makanan akan cepat berubah warna dan matang.

3. Menggunakan metode cooking spray. Dengan cara mengisi minyak ke botol spray. Hal ini akan membatasi menuang minyak langsung ke wajan dan dapat menghasilkan masakan rendah kalori.

4. Sesuaikan minyak dengan porsi makanan yang akan dibuat ya. Supaya tidak mubazir. Memasaknya pun dengan menggunakan api sedang, panas yang pas agar tidak menyerap minyak begitu banyak. 

5. Menggunakan minyak dalam satu waktu. Misal, minyak untuk menggoreng kerupuk bisa kita pakai lagi untuk menggoreng tempe atau ikan kemudian membuat sambal, menghemat minyak dan mengurangi cucian wajan.

6. Ganti minyak dengan margarin. Jika hanya menumis saja kita bisa menggunakan margarin. Penggunaan margarin lebih sehat karena berasal dari lemak nabati.

7. Menggunakan Air fryer. Memasak menggunakan air fryer terbilang sehat karena proses memasaknya tidak menggunakan minyak.

Itulah cara menghemat penggunaan minyak goreng. Pilih tahapan sesuai kebutuhan ya. Semoga bermanfaat. 

wajan anti lengket Bolde

Cooking spray




Sabtu, 05 Maret 2022

Bakteri Baik, Sahabat Petani

Kegiatan perbanyakan Agens Hayati adalah salah satu agenda rutin dari Laboratorium Agens Hayati (LAH) Mamuju. Kali ini LAH melakukan perbanyakan bakteri Paenibacillus polymyxa yg merupakan bakteri yang memiliki sifat antagonis terhadap bakteri patogen dan digunakan sebagai bahan pengendali hayati ramah lingkungan.

Bakteri P. polymyxa sangat efektif dalam menekan penyakit kresek pada padi yang disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv. Oryzae hingga 80%. Selain itu, bakteri P. polymyxa dapat mengendalikan penyakit Blas, Cercospora, layu pada pisang, tomat dan cabe.

Teknik perbanyakan bakteri ini dapat dilakukan berdasarkan skala laboratorium dan secara sederhana. Untuk skala laboratorium, P. polymyxa dapat diperbanyak menggunakan isolat yang ditumbuhkan di media Potato Dextrose Agar (PDA).

Sementara itu, perbanyakan secara sederhana dapat dilakukan di tingkat petani dengan menggunakan media cair berupa Ekstrak Kentang Gula atau biasa disebut larutan EKG. Tahap pembuatan dilakukan dengan menggunakan rangkaian fermentor dan diinkubasi selama 10-14 hari.

Meskipun dilakukan secara sederhana, laboratorium Agens Hayati juga tetap melakukan perbanyakan dengan metode ini, dengan harapan tetap tersedianya stok bahan pengendalian hayati yang dapat digunakan oleh petani pada saat gerakan pengendalian (gerdal) di lapangan. 

Nah, karena yang dimanfaatkan hanya ekstrak kentang nya saja, tentu ampas kentang bisa kita gunakan untuk keperluan memasak atau membuat kue. Ibarat peribahasa yang mengatakan "Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui" artinya satu kali melakukan pekerjaan, mendapatkan hasil atau keuntungan sekaligus. Sungguh mengasyikkan bukan? 😀

Para petani pun sangat merasakan manfaat dari bakteri ini. Mereka secara swadaya melakukan pengembangan berbagai macam Agens hayati dan mengaplikasikan langsung di sawah mereka. Padi menjadi subur, hama dan  penyakit enggan menyerang, petani pun bahagia, terlebih kami sebagai penggiat produk Agens hayati ramah lingkungan.

Semoga seluruh pelaku pertanian saling bersinergi menciptakan pertanian organik bebas pestisida. 

Kalau bukan kita, siapa lagi ?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi ?

Salam sehat!


Mengupas kentang 

Persiapan merebus kentang

Meniriskan kentang yang sudah direbus

Rangkaian sederhana Fermentor

Kamis, 03 Maret 2022

Refugia, Si Cantik Penuh Manfaat

"Tak sekedar cantik..."

Maraknya penggunaan pestisida kimia oleh petani membuat keberadaan musuh alami semakin berkurang. Aplikasi pestisida yang tidak tepat dalam jangka waktu panjang justru akan memicu ledakan populasi hama akibat resistensi dan resurgensi. Nah, cara jitu untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memanfaatkan tanaman refugia yang ditanam disekitar kebun atau sawah.

         Apa itu tanaman Refugia? 

Tanaman Refugia adalah tumbuhan (baik tanaman maupun gulma) yang tumbuh disekitar tanaman yang dibudidayakan, yang berpotensi sebagai mikrohabitat bagi musuh alami (baik predator maupun parasitoid), agar pelestarian musuh alami tercipta dengan baik. Refugia merupakan tanaman yang sengaja ditanam di pematang sawah atau kebun, dan sudah banyak ditanam oleh petani-petani binaan  POPT kami. 

 Refugia dapat berupa tanaman palawija atau bunga-bungaan seperti bunga matahari     (Heliantus annuus), kenikir (Cosmos caudatus), bunga kertas (Zinnia sp.), tapak dara (Catharanthus roseus), bunga pukul delapan (Turnera ulmifolia). Bunga pukul delapan merupakan rumah bagi kepik Sycanus sp. predator pembasmi ulat api. Sementara bunga matahari menarik predator pemangsa kutu dan tungau.

Selain untuk mengendalikan hama secara alami, menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi biaya usaha tani, Refugia  memiliki keindahan bagi siapa saja yang melihat. 

Pantaslah kalau kalau saya mengatakan kantor BPTPH indah, sungguh menyejukkan mata. Manakala tanaman subur berdampingan dengan bunga-bunga yang merekah ditambah lagi sebagai tempat swafoto👏😍

           Sudah cantik, bermanfaat pula.


            Yuk, yang tertarik mau menanam Refugia bisa klik link berikut Benih Refugia


Mengabdikan momen

Bunga Matahari

Refugia

Berswafoto






Instalasi Hidroponik #Ramadhan Journey

Instalasi Hidroponik milik kak Ama di Kabupaten Majene Tiga hari yang lalu, sebelum pulang ke Mamuju, saya menyempatkan berkunju...